Definisi RUNWAY (Landasan Pacu) Menurut Ilmu Penerbangan & Fungsinya

Definisi Runway (Landasan Pacu)

Definisi Runway (Landasan Pacu)

Pada zaman sekarang masyarakat umumnya cenderung ingin menggunakan sarana transportasi yang aman, cepat dan tepat waktu. Jika ditinjau dari tiga hal tersebut, menggunakan transportasi udara adalah pilihan yang sangat tepat.

Maka dari itu dibutuhkan prasarana dan fasilitas yang mempuni agar pesawat udara yang beroperasi untuk menaikkan dan menurunkan penumpang dengan aman dan nyaman yaitu adalah Bandar Udara (Bandara).

Bandar Udara (Bandara)

Bandar Udara atau Bandara merupakan bagian dari prasarana utama bagi pesawat udara untuk beroperasi. Sekarang Bandara tidak hanya digunakan untuk penumpang yang akan melakukan penerbangan dan yang belum melakukan penerbangan saja. Dalam perkembanganya berbagai fasilitas ditambah seperti toko, restoran, dan lain lain, tidak hanya untuk penerbangan maskapai tertentu saja (Airlines).

Maka dari itu, para pengelola Bandara melakukan pelayanan yang sangat optimal untuk menarik perhatian pengusaha, perusahaan penerbangan maupun penumpang yang akan menaikan nilai ekomoni Bandara tersebut.

Jika di tinjau dari sisi kebutuhan angkutan udara yang tinggi, maka akan mengakibatkan adanya peningkatan dari penggunaan Airside dan Landside bandar udara tersebut. Untuk itu harus ada tinjauan kajian mengenai Analisis Kapasitas Landas Pacu (Runway) pada Bandara.

Definisi Landasan Pacu (Runway)

Landasan Pacu (Runway)

Landasan Pacu (Runway)

Landasan Pacu atau dalam Bahasa Inggris disebut Runway adalah suatu daerah persegi panjang yang ditentukan pada Bandara di daratan atau perairan yang dipergunakan untuk pendaratan dan lepas landas pesawat udara.

Landasan Pacu (Runway) merupakan titik perpindahan pergerakan transportasi udara yang sangat penting pada bandara atau sebagai elemen penting infrastruktur bandar udara.

Maka dari itu, Perlu dilakukan kajian analisa yang matang untuk menaikan fungsi dari Bandara tersebut. Salah analisa yang harus dilakukan yaitu sebagai berikut:

  • Kapasitas Landasan Pacu (Runway),
  • Landasan Penghubung (Taxiway),
  • Parkir Pesawat (Apron),
  • Terminal.

Bandara Internasional Sentani

Bandara Internasional Sentani Jayapura

Bandara Internasional Sentani Jayapura

Sebagai Contoh Bandar Udara Internasional Sentani adalah Bandara yang di bangun di Ibu Kota Provinsi Papua, Sentani Kabupaten Jayapura (Jaipur di Rajasthan) yang berarti Kota Kemenangan.

Kota Jayapura berada pada timur laut pulau Papua bagian barat yang berdekatan langsung dengan perbatasan Indonesia dengan Papua Nugini.

Bandara Internasional Sentani adalah bandar udara terbesar, tersibuk dan memiliki peranan sebagai hubungan utama
untuk menuju pedalaman yang ada di pulau Papua.

Luas Terminal Bandara Sentani sekitar 145 hektar dengan kapasitas rata-rata 1 juta penumpang/tahun. Disamping itu terdapat berbagai fasilitas yang harus di perbanyak dan diperbaharui yang menyangkut permasalahan operasinal udara, yaitu:

  • Keterbatasan pada kapasitas dan Panjang runway.
  • Adanya natural obstacle (gunung dan bukit).
  • Penggunaanya bersamaan dengan kegiatan militer dan komersil.

Dari permasalahan tersebut maka Bandara Internasional Sentani harus membenahi infrastruktur agar dapat melayani permintaan yang ada. Salah satu yang harus di tingkatkan adalah kelancaran lalu lintas pesawat udara yang ada. Kelancaran lalu lintas ini di pengaruhi oleh kapasitas runway sebagai tempat mendarat sekaligus lepas landas pesawat udara.

Bandara Sentani saat ini hanya memiliki satu runway dengan panjang runway 3000 meter dengan lebar 45 meter. Kondisi ini masih belum optimal mengingat tingkat lalu lintas pesawat udara yang keluar dan masuk Bandara Sentani sangat ramai bahkan tiap tahun maskapai penerbangan membuka tujuan baru dari dan ke Bandara Sentani Jayapura.

Jika pada hasil dari analisis kapasitas Runway ini sudah memenuhi syarat, maka tidak perlu ada penambahan runway. Tetapi jika kapasitas runway yang ada tidak memenuhi syarat, maka akan disarankan melakukan perencanaan Runway.

Pembuatan Runway (Landasan Pacu)

Sumber lain mengatakan bahwa Landasan Pacu (Runway) yaitu adalah suatu bidang persegi panjang tertentu di
dalam lokasi Bandara yang berupa suatu Perkerasan yang disiapakan untuk pesawat melakukan kegiatan pendaratan dan tinggal landas.

Elemen dasar Runway meliputi Perkerasan yang secara struktural cukup untuk mendukung beban pesawat yang dilayaninya. Untuk penyelenggaraan sebuah lasdas pacu dapat memiliki konfigurasi tertentu yaitu:

  • Ruway tunggal
  • Runway sejajar
  • Runway berpotongan
  • Runway bersilangan
  • Runway dengan konvigurasi open V

Pembuatan sebuah Landas Lacu harus memenuhi persyaratan teknis maupun persyaratan operasional yang telah ditentukan oleh ICAO (International Civil Aviation Organization) yang tertuang dalam Annexs 14 dari konvensi Chicago.

Dipandang dari Aspek Keselamatan persyaratan yang bersifat mutlak dan harus dipenuhi dalam perencanaan Bandar Udara (Bandara), yaitu:

  1. Persyaratan Teknis Kemiringan Slope Terdiri dari:
    • Kemiringan memanjang efektif maximum 1%
    • Kemiringan melintang efektif maximum 1,5%
    • Jarak perubahan antar kemiringan /slope runway, minimum 45m, disarankan jarak direncanakan 100-300m, agar tidak bergelombang, berubahan kemiringan lebih halus (smooth) dan nyaman.
  2. Persyaratan Operasional
    • Sudut pendaratan pesawat udara :
      • 2% untuk pesawat udara jenis jet.
      • 4% untuk pesawat udara jenis baling-baling.
    • Bidang transisi (transisional slope) :
      • 1:7 untuk pesawat udara jenis jet.
      • 1:5 untuk pesawat udara jenis baling-baling.
    • Bidang batas halangan (obstruction limitation surface) merupakan ruang udara diatas Bandar udara yang dikontrol Bandar udara, tempat pesawat udara menunggu giliran untuk
      mendarat.
  3. Faktor Dasar Perencanaan Runway:
    • Azimuth landas pacu guna penulisan Nomor Landas Pacu.
    • Panjang landas pacu.
    • Lebar landas pacu.
    • Perencanaan tebal perkerasan landas pacu.
    • Kemiringan melintang dan memanjang landas pacu.
    • Jenis kekerasan landas pacu.
    • Kekuatan dan daya dukung landas pacu.

Disamping memenuhi Persyaratan Teknis dan Operasional dalam perencanaan Bandar Udara (Bandara) juga harus
mempunyai suatu nilai yang menyatakan karakteristiknya yaitu :

  • Daya dukung atau bearing capacity diuji dengan alat HWD
  • Kekesatan atau skid resistace diuji dengan MU meter, grip tester
  • Kekerasan/roughness diuji dengan alat profilometer
  • Kerataan diuji dengan alat NAASRA.

Bagian Terpenting Dalam Fasilitas Sisi Udara Runway Adalah:

Dalam Perencanaan Bandar Udara (Bandara) juga harus memperhatikan Bagian Bagian Terpenting Dalam Fasilitas Sisi Udara Yaitu Sebagai Berikut:

  1. Runway Designation/Number/Azimuth
    Landas pacu harus dilengkapi dengan penomoran untuk membantu pesawat yang akan mendarat dan lepas landas sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Pedoman penomoran ditandai dengan warna putih dalam bentuk 2 angka atau kombinasi 2 angka dan 1 huruf tertentu yang di tulis di runway sebagai identitas runway.
  2. Dimention (Length and Width)
    CODE NOMOR UKURAN DASAR PANJANG RUNWAY LEBAR RUNWAY LEBAR TAXYWAY
    1 Kurang dari 800 m 18–23 m 7,5m
    2 800m–1200 m (tidak termasuk 1200m) 23–30 m 10,5m
    3 1200m–1800 m (tidak termasuk 1800m) 30–45 m 15–18m
    4 1800m ke atas 45m 18–23m
  3. Shoulder atau Bahu Landasan Pacu
    Bahu landasan harus dibuat secara simetris pada masing-masing sisi runway. Shoulder melebar kesamping runway sehingga seluruh lebar runway tidak kurang dari 60 m (200 feet). Shoulder disiapkan untuk menampung pesawat apabila keluar dari landasan sehingga tidak mengakibatkan kerusakan pesawat dan juga kuat untuk menampung kendaraan-kendaraaan yang beroperasi di shoulder.
  4. Turning Area atau Area Untuk Berputar
    Jika area putaran untuk pesawat disediakan di beberapa titik di runway, lebar dari area putaran harus tersedia ruang bebas antara roda utama terluar pesawat udara yang menggunakan runway dengan tepi dari area putaran.
  5. Runway Longitudinal Slope atau Kemiringan Memanjang Landas Pacu
    Seluruh kemiringan memanjang runway, ditentukan dengan membagi perbedaan antara maksimun dan minimum elevasi sepanjang garis tengah runwaydengan panjang runway.
  6. Tranverse Slope
    Kemiringan melintang pada beberapa bagian dari runway harus cukup memadai guna menghindari penambahan air saat hujan.
  7. Sight Distance atau Jarak Pandang
    Jika perubahan kemiringan tidak dapat dihindari maka harus ada suatu arah garis tanpa halangan.
  8. Runway Surface adalah permukaan landas pacu, harus memenuhi standar atau nilai keandalan (performance) agar pengoperasian suatu fasilitas teknik Bandar udara dapat dipenuhi unsur keselamatan penerbangan.
    • Pavement Clasification Index (PCI)
    • Kerataan (IRI/Integrated Rouhgnes Index)
    • Kekesatan Permukaan Perkerasan/Skid Resistance
      • MU-meter
        Kekesatan diukur dengan cara mengukur friksi antara roda dan permukaan perkerasan dan dilakukan pada permukaan perkerasan dalam kondisi basah (membasahi permukaan).
      • Grid Tester
        Angka kekesatan/skid resistance yang direkomendasikan untuk operasional permukaan perkerasan dengan alat Grid Tester adalah 0,74–0,53 (Annex14-Aerodromes, hal. 193).
  9. Runway Strength
    Runway harus sanggup dan tetap melayani lalu lintas di runway yang dikehendaki.
  10. Runway Strip atau Jalur Landas Pacu merupakan suatu daerah yang ditentukan termasuk runway dan stopway (jika ada) dipersiapkan:
    • Untuk mengurangi kerusakan apabila pesawat keluar dari landasan.
    • Untuk melindungi pesawat selama take-off dan landing
  11. Stopway / Overrun atau Jalur untuk Berhenti
    Stopway dipersiapkan untuk dapat menampung pesawat apabila pesawat gagal melaksanakan take-off dan tidak dapat berhenti di runway (keluar dari landasan), sehingga tidak dapat mengakibatkan kerusakan yang berat.
  12. Holding Bay yaitu adalah suatu tempat dimana sebuah pesawat dapt menunggu atau memberikan jalan kepada pesawat lain (dilewati oleh pesawat lain) guna terselenggaranya kelancaran lalu – lintas di darat. Posisi:
    • Terletak pada pertemuan landas pacu dengan taxiway.
    • Terletak pada pertemuan 2 landas pacu dimana salah satu landasannya digunakan sebagai taxiway.
  13. Runway End Safety Area (RESA)
    RESA adalah suatu daerah simetris yang merupakan perpanjangan dari garis tengah landas pacu dan membatasi bagian ujung runway strip yang merupakan daerah rawan kecelakaan, daerah ini mutlak harus dikuasai oleh bandara dan harus disiapkan untuk kondisi yang terburuk yang mungkin terjadi.
  14. Clearway adalah suatu bidang persegi panjang yang membentang dari ujung landasan pacu dan simetris terhadap perpanjangan garis tengah landasan, bebas dari rintangan tetap dan berada dibawah pengawasan orita Bandar udara.
    • Yang perlu mendapat perhatian pada area clearway adalah:
      • Declared Distances, adalah bentang jarak yang dinyatakan dan tersedia untuk operasi pesawat udara (take-off dan landing)
      • Take off Run Available (TORA), adalah panjang landas pacu (R/W) yang tersedia dan aman untuk percepatan pada waktu pesawat akan lepas landas.
      • Take off Distance Available (TODA), adalah panjang (jarak) take off run available, ditambah panjang dari clearway (bila landasan tersebut memiliki clearway)
      • Accelerate Stip Distance Available (ASDA), adalah panjang (jarak) take off run available, ditambah panjang dari stopway (bila landasan tersebut memiliki stopway)
      • Landing Distance Available (LDA), adalah panjang (jarak) landasan yang disediakan untuk pendaratan pesawat udara.
  15. Runway Designated Marking Terdiri dari 2 angka (nomor) untuk parallel runway akan diberikan tambahan huruf:
    • Untuk 2 paralel runways = L, R.
    • Untuk 3 paralel runways = L,C, R.
    • Untuk 4 paralel runways = L, R, L, R.
    • Untuk 5 paralel runways = L, C, R, L, C atau L, R, C, L, R.
    • Untuk 6 paralel runways = L, C, R, L, C, R.
      • Keterangan:
        • L = Left
        • R = Right
        • C = Centre
  16. Azimuth Runway Azimuth runway dibulatkan dibulatkan menjadi puluhan derajat:
    • 1°, 2°, 3°, 4° dibulatkan kebawah
    • 5°, 6°, 7°, 8°, 9° dibulatkan keatas
    • Contohnya :
      Jika suatu azimuth runway adalah 135°
      Maka nomor runway adalah:
      135° dibulatkan 140° nomor runway 14.
      Sedangkan runway yang berlawanan adalah:
      140° + 180° = 320° nomor runway adalah 32.

Penamaan Runway (Landasan Pacu)

Nama Runway diambil dari arahnya dengan pembulatan ke puluhan terdekat, contoh: 36 untuk landasan pacu yang mengarah ke 360 derajat (utara). Karena sebuah landasan pacu bisa dipakai dua arah, penamaan pun ada dua dengan selisih 18. Contoh: landasan pacu 09/27.

Apabila Bandara memiliki beberapa landasan pacu dengan arah sama, akan diidentifikasi dengan penambahan huruf L, C, dan R untuk LeftCenter, dan Right (kiri, tengah, kanan) yang ditambahkan di akhir. Contoh: landasan pacu 02R/20L.

Klasifikasi Runway Ditentukan Bedasarkan:

  1. Kelengkapan Alat-Alat Bantu Navigasi Penerbangan Pada Bandara Meliputi:
    • Instrument Precision; Alat-alat bantu navigasi penerbangan untuk landasan pacu yang dilengkapi alat bantu pendaratan Instrument Landing System (ILS) dan alat bantu pendaratan visual.
    • Instrument non precision; Alat-alat bantu navigasi penerbangan untuk landasan pacu yang dilengkapi dengan alat bantu navigasi penerbangan Doppler Very High Frequency Directional Omni Range (DVOR) dan alat bantu pendaratan visual.
    • Non instrument ; Alat-alat bantu navigasi penerbangan untuk landasan pacu yang dilengkapi dengan alat bantu navigasi penerbangan Non Directional Beacon (NDB).
  2. Dimensi Landasan Pacu
    • Code number 1; Panjang landasan pacu kurang dari 800 meter.
    • Code number 2; Panjang landasan pacu = 800 meter atau lebih tetapi lebih kecil 1.200 meter.
    • Code number 3; Panjang landasan pacu = 1.200 meter atau lebih tetapi lebih kecil 1.800 meter.
    • Code number 4; Panjang landasan pacu = 1.800 meter atau lebih tetapi lebih kecil 1.900 meter.
    • Code number 6; Panjang landasan pacu = 1.900 atau lebih hingga 4.200 meter.

Teknis Runway (Landasan Pacu)

[Sumber] Pada umumnya Landasan Pacu memiliki lapisan aspal “hotmix” dengan identifikasi angka derajat dan arah yang dituliskan dengan huruf, serta garis garis yang mirip dengan “zebra cross” pada ujung ujungnya yang semakin berkurang jumlah garisnya bila menuju ke tengah landasan yang menunjukkan saat saat pesawat harus touch down (roda roda menyentuh landasan saat mendarat) serta take off (melandas).

Pada landasan-landasan tertentu, ujung ujung landasan yang digunakan untuk touch down atau take off digunakan lapisan beton, bukan aspal, untuk menghindari melelehnya aspal pada saat pesawat take off dengan kekuatan mesin penuh, khususnya pesawat tempur yang menggunakan mekanisme afterburner sehingga menimbulkan semburan api pada nozzle (saluran buang) mesin pesawat.

Aspal yang digunakan yang terbaik adalah aspal alam, dan yang terbaik digunakan adalah aspal yang dihasilkan dari negara Trinidad dan Tobago, jadi tidak menggunakan aspal hasil olahan minyak bumi, yang mudah mencair/melunak akibat panas matahari, tekanan dan panas yang ditimbulkan dari semburan gas buang mesin pesawat.

Pada bagian bawah lapisan aspal digunakan lapisan batu kali, bukan batu koral seperti halnya penggunaan pengaspalan jalan raya. Landasan Pacu dibuat dengan perhitungan teknis tertentu sehingga permukaannya tetap kering, sekalipun pada musim hujan, dan mencegah tergenangnya landasan yang mengakibatkan pesawat mengalami aquaplanning, terutama saat mendarat yang sangat membahayakan.

Pada tepi kanan dan kiri serta ujung ujung Landasan Pacu diberi lampu-lampu dan tiang-tiang navigasi yang digunakan untuk membantu navigasi terlebih lebih pada cuaca buruk dan penerbangan malam hari.

Landasan Pacu bandara perintis memiliki konstruksi yang lebih sederhana dibandingkan bandara bandara komersial terlebih lebih di kawasan terpencil. Landasan Pacu ini dikenal sebagai airstrip.

Terkadang hanyalah lajur tanah yang diperkeras yang diberi lapisan rumput, dan untuk mencegah amblasnya tanah digunakan lonjoran lonjoran baja atau alas marston (lapisan plat baja yang berlubang lubang).

Di Indonesia, landasan seperti ini digunakan di daerah pedalaman Irian Jaya atau Papua. Konstruksi Landasan Pacu seperti ini digunakan pada masa Perang Dunia II untuk kepentingan militer karena pembuatannya lebih praktis.

Panjang Landasan Pacu bergantung pada suhu, kecepatan dan arah angin, serta tekanan udara di sekitarnya. Di daerah gurun dan di dataran tinggi, umumnya Landasan Pacu yang digunakan lebih panjang daripada yang umum digunakan di bandara-bandara bahkan bandara internasional, karena tekanan udara yang lebih rendah. Sebagai contoh, Landasan Pacu di kota Doha, Qatar memiliki ukuran panjang sampai lebih dari 5.000 meter.

Landasan tertentu dilengkapi dengan kabel penahan pesawat untuk pendaratan (arrester cable) bahkan pelontar pesawat (catapult), terutama untuk landasan pendek dan landasan pada kapal induk.

Pemeliharaan Runway

[Sumber] Landasan Pacu pada setiap bandara umumnya dibersihkan dari debu atau kerikil, bahkan benda benda asing lainnya yang akan membahayakan keselamatan penerbangan (dalam dunia penerbangan, benda asing tersebut dikenal sebagai FOD).

Kecelakaan pesawat terbang di landasan pacu umumnya disebabkan karena adanya benda benda asing baik yang masuk ke dalam mesin pesawat maupun merusak badan pesawat atau roda pesawat saat pesawat lepas landas atau mendarat.

Hal tersebut seperti yang dialami pesawat Concorde di Bandara Charles de Gaulle, Paris, Prancis pada tahun 2000 yang menyebabkan pesawat terbakar dan jatuh yang menewaskan seluruh penumpang, krew dan penduduk setempat.

Selebihnya karena cuaca dan bahkan gangguan burung sehingga umumnya di setiap bandara komersial bahkan perintis dilengkapi menara pengawas yang mengawasi lalu lintas penerbangan, komunikasi bahkan informasi cuaca.

Pada bandara tertentu, dilengkapi sensor dan pengusir burung dan sensor cuaca serta sensor untuk mengukur tingkat kebisingan yang ditimbulkan dari mesin pesawat.

Selain itu pula, setiap landasan dilengkapi dengan kendaraan penyapu landasan dan peralatan bahan kimia pembersih landasan khususnya untuk membersihkan sisa sisa jejak karet yang ditimbulkan oleh roda-roda pesawat yang bila tidak dibersihkan juga dapat mengganggu keselamatan penerbangan.

Perhitungan Kapasitas Landas Pacu (Runway) Dengan Metode FAA

Kebutahan kapasitas landas pacu (runway) di rencanakan dan dihitung berdasarkan model untuk menunjang operasi campuran (mix operation), model operasi ini harus di dasarkan pada pengaturan operasi yang terdiri dari:

  1. Kedatangan harus di prioritaskan di banding dengan keberangkatan.
  2. Di izinkan hanya satu pesawat udara yang dapat berada di landas pacu (runway) pada satu waktu.
  3. Keberangkatan pesawat udara tidak dapat dilaksanakan apabila pesawat udara yang berikutnya tidak berada pada jarak yang sudah di tentukan pada kondisi IFR (Instrument Fligth Rules).

Intulah Definisi RUNWAY (Landasan Pacu) Menurut Ilmu Penerbangan & Fungsinya. Semoga Bermanfaat, Silakan Tinggalkan Komentar.

Terimakasih..

Sharing is caring

Mungkin Anda juga menyukai

4 Respon

  1. 15/03/2021

    […] Bandara yang paling sederhana minimal memiliki sebuah Landasan Pacu atau Helipad, Sedangkan untuk bandara besar biasanya dilengkapi dengan berbagai Fasilitas lain, […]

  2. 19/03/2021

    […] Gelinding atau Jalan Rayap atau Landasan Ancang yaitu adalah jalan penghubung antara Landasan Pacu (Runway) dengan Pelataran Pesawat (Apron), Kandang Pesawat (Hanggar), Terminal atau Fasilitas lainnya di […]

  3. 15/04/2021

    […] bandar udara yang paling sederhana minimal memiliki sebuah Landasan Pacu (Runway) atau helipad (untuk pendaratan helikopter), sedangkan untuk bandara-bandara besar biasanya […]

  4. 20/04/2021

    […] Runway Tempat atau jalan yang digunakan oleh pesawat udara untuk lepas landas atau mendarat di bandar udara. […]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *